Oleh: Team Leader BEENERO MANADO | 6 Februari 2012

Sambutlah Sang Risiko

Sambutlah Sang Risiko

 

Seringkali saya ditanya, “Pak bisnis apa yang bagus saat ini? Yang resikonya kecil tapi untungnya besar. Saya tidak mau ketemu makhluk yang namanya RISIKO.” Ini pertanyaan lucu buat saya. Kenapa? Karena tanpa Anda sadari sesungguhnya Anda hidup dikelilingi oleh sang risiko, setiap hari, setiap saat. Masa sih…?
Coba perhatikan. Dari rumah pergi ke kantor naik mobil, risikonya kecelakaan, masuk rumah sakit bahkan mati. Naik pesawat terbang, enteng saja Anda naiknya. Padahal risikonya jatuh, terus mati. Yang risikonya mati saja Anda berani, sekarang buka bisnis yang risikonya cuma kehilangan uang bukan nyawa kok Anda tidak berani? Kan lucu! Lebih lucu lagi, bahkan sama bisnis yang tidak ada risikonya pun ada yang masih tidak berani…

Seorang teman ditawari untuk mengelola kios untuk dagang, semua gratis, plus barang dagangannya di-supply! Tapi dia, tinggal dagang saja masih nggak berani. “Takut nggak laku,” katanya. Padahal kalau nggak laku pun, sebetulnya bukan risikonya dia.

Tahun 2008 adalah tahun kebimbangan saya saat itu. Kenapa? Saya sedang dalam posisi bingung mempertimbangkan apakah saya harus tetap kerja melanjutkan karir atau berhenti dan memulai karir sebagai pengusaha. Di tengah kebimbangan tersebut, suatu hari saat saya sedang melamun selesai makan siang, tiba-tiba saya ketemu seorang sahabat lama.

Setelah berbincang-bincang sekadarnya, dia bertanya pada saya. “Kenapa kamu? Kok kelihatannya seperti orang bingung…,” tanya dia. Saya jawab apa adanya. Saya bilang, saya sedang di persimpangan untuk memutuskan berhenti kerja atau tidak.

“Saya mau tanya sama kamu, kalau kamu terus kerja, apakah ada kemungkinan kamu sukses berkarir?” tanya dia.

“Pasti ada,” jawab saya.

“Begaimana dengan kemungkinan kamu dipecat kena PHK atau perusahaan tempatmu bekerja bangkrut?” lanjut teman saya.

“Ada juga kemungkinan itu,” jawab saya.

“Nah, kalau kamu jadi pengusaha, mungkinkah kamu jadi pengusaha sukses?” tanya temen saya lagi.

“Oh..saya yakin bisa…!” jawab saya optimis.

“Kalau bangkrut?” tanya dia.

“Ya ada kemungkinan sih, tapi saya yakin bisa,” jawab saya agak heran.

“Nah, kenapa musti pusing mikirin mana yang paling baik. Enggak ada bedanya kok,” kata si teman.

Anda berani naik pesawat atau mobil (bahkan tidak cuma sekali) walaupun Anda tahu risiko paling buruknya karena Anda yakin bahwa risiko itu sudah bisa dikendalikan atau diminimalkan. Kalau pinjam istilah Aa Gym: “menyempurnakan ikhtiar”. Untuk meminimalkan risiko, ada memasang safety belt, tidak ngebut, dsb. Anda menjadi yakin dengan apa yang Anda lakukan. Sisanya kita tinggal berdoa agar diberi keselamatan. Nah kalau itu sudah urusan Yang Di Atas.

Saya pikir dalam menghadapi bisnis, sikap kita juga harus sama. Apalagi, kalau di bisnis tersebut risiko yang ditakutkan kebanyakan hanyalah masalah uang.

Kalau Anda amati contoh “naik pesawat” atau “naik mobil” di atas, yang membuat kita berani ambil risiko adalah keyakinan kita yang kuat. Nah di bisnis pun sama. Pupuklah keyakinan yang kuat agar berani berbisnis dan mengambil risiko.

Seorang mentor bisnis terkenal pernah mengatakan: Bisnis itu 80% keyakinan 20% strategi. Saya sependapat dengan beliau. Jadi, jangan cari bisnis apa yang bagus, tapi carilah jalan/strategi untuk membuat bisnis kita menjadi bagus.

Lalu, bagaimana meminimalkan risiko rugi? Jangan lupa zakat dan sedekah. Nah, bagaimana pendapat Anda?  (Penulis : Apik S Rijal)

Salam Luar Biasa,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: